Posted: Oktober 18, 2011 in Uncategorized

ACHMAD NURYADI NIM.224309150

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Permasalahan
Kepemimpinan di dalam organisasi memiliki kekuatan yang aspirasional, kekuasaan semangat, kekuatan moral yang kreatif, yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi para pegawai untuk mengubah sikap, sehingga para pegawai menjadi se arah dengan kemauan pemimpin. Tingkah laku pemimpin menjadi se arah dengan kemauan dan aspirasi pemimpin oleh pengaruh interpersonal pemimpin terhadap bawahannya.
Dalam kondisi demikian terdapat kesukarelaan atau induksi pemenuhan kerelaan (complience induction) bawahan terhadap pimpinan, khususnya dalam mencapai tujuan bersama, dan pada pemecahan masalah yang harus dihadapi secara bersama-sama. Jadi tidak diperlukan pemaksaaan, pendesakan, penekanan, intimidasi atau ancaman dan kekuatan koersip (coersive power) tertentu.
Apabila setiap pimpinan organisasi dalam segala tindakan dapat mempunyai motivasi kerja yang baik dan sesuai dengan peraturan yang berlaku, maka mereka bekerja akan memperlihatkan sebagai suatu organisasi yang sehat dan kuat dengan prestasi yang dapat diandalkan. Segala tugas pokok dari organisasi tersebut dapat dilaksanakan dengan baik, yang pada akhirnya tujuan organisasi pun dapat dicapai secara efektif dan efisien. Namun demikian pimpinan dalam menjalankan tugasnya tidak hanya dilaksanakan sendirian saja, akan tetapi peran bawahan sangat berpengaruh, oleh karena itu seorang pemimpin harus dapat menggerakan setiap bawahannya serta mengarahkan pegawai ke arah tujuan yang sama, yakni dalam mencapai tujuan.
Selain itu pimpinan juga harus membimbing dan mengarahkan pegawai agar mereka dapat memahami dan mengerti apa yang harus mereka kerjakan dan jelas apa yang menjadi tugasnya. Dengan demikian setiap pegawai akan bekerja secara efektif dan efisien, dan prestasi kerja dari masing-masing pegawai pun akan meningkat dengan baik, dan akhirnya apa yang menjadi tujuan organisasi pun akan tercapai dengan baik pula sesuai dengan yang telah ditetapkan.
Dalam melaksanakan fungsinya pimpinan harus mampu menerapkan konsep kepemimpinan dalam menggerakkan para pegawainya. Agar pegawai dapat bekerja sesuai tujuan organisasi diperlukan seorang pemimpin yang mampu menggerakkan mereka untuk bekerja. Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang mampu mengelola organisasi, bisa mempengaruhi secara konstruktif orang lain, dan dapat menunjukkan jalan serta berperilaku dengan benar. Oleh karena itu pemimpin mempunyai kesempatan paling banyak untuk mengubah kunir menjadi emas, apabila ia pandai memanfaatkan dan mengoptimalkan potensi yang ada di sekelilingnya, dan sebaliknya onggokan emas menjadi kunir yang busuk jika salah langkah dan tidak bijaksana di dalam menjalankan tugas dan fungsi kepemimpinannya.
Apabila pimpinan dapat menjalankan fungsi kepemimpinannya dengan baik, maka seberat dan sebesar apapun tugas dan pekerjaan yang diberikan dapat diselesaikan dengan baik oleh pegawai baik secara kualitas maupun kuantitas, sehingga pada akhirnya akan meningkatkan prestasi kerja pegawai dalam bekerja. Prestasi kerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan yang dibebankan kepadanya.
Dari pengamatan sementara penulis di Sub Bagian Tata Persuratan, Biro Umum (Sentra Penerimaan Surat) Sekretariat Jenderal Kementerian Perhubungan terlihat bahwa prestasi kerja pegawai masih memerlukan perbaikan dan peningkatan yang cukup, karena prestasi para pegawai masih jauh dari target yang ditentukan, Seperti:
1. Masih adanya pegawai yang tidak dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan tepat pada waktunya,
2. Kekurangnya kemampuan pegawai dalam menyelesaikan semua tugas-tugasnya,
3. Belum berjalannya fungsi kepemimpinan dengan yang diharapkan organisasi.
4. Masih kurang loyalnya pegawai dalam melaksanakan tugas yang diberikan organisasi.
5. Kurang inisiatif pegawai dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.
6. Masih rendahnya daya tangkap pegawai dalam memahami tugas baru yang diberikan oleh organisasi.
Keadaan tersebut terjadi karena kurangnya kemampuan pimpinan dalam melaksanakan fungsi kepemimpinannya.
Berdasarkan hal tersebut di atas, penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai hubungan fungsi kepemimpinan dengan prestasi kerja, yang hasilnya penulis tuangkan ke dalam bentuk skripsi yang berjudul : “HUBUNGAN ANTARA FUNGSI KEPEMIMPINAN DENGAN PRESTASI KERJA PEGAWAI PADA SUB BAGIAN TATA PERSURATAN, BIRO UMUM (SENTRA PENERIMAAN SURAT) SEKRETARIAT JENDERAL KEMENTERIAN PERHUBUNGAN”

B. Ruang Lingkup dan Pembatasan Masalah
Dari berbagai permasalahan mengenai hubungan antara fungsi kepemimpinan dengan prestasi kerja pegawai pada Sub Bagian Tata Persuratan, Biro Umum (Sentra Penerimaan Surat) Sekretariat Jenderal Kementerian Perhubungan, banyak variabel–variabel yang mempunyai keterkaitan dengan prestasi kerja pegawai. Oleh karena adanya keterbatasan dan kemampuan penulis, baik waktu, tenaga dan pikiran, maka penulis akan membatasi ruang lingkup penelitian ini, yaitu mengenai hubungan antara fungsi kepemimpinan dengan prestasi kerja pegawai pada Sub Bagian Tata Persuratan, Biro Umum (Sentra Penerimaan Surat) Sekretariat Jenderal Kementerian Perhubungan.

C. Pokok Permasalahan
Pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah : “Seberapa kuat hubungan antara fungsi kepemimpinan dengan prestasi kerja pegawai pada Sub Bagian Tata Persuratan, Biro Umum (Sentra Penerimaan Surat) Sekretariat Jenderal Kementerian Perhubungan?”.

D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan penelitian
Untuk mengetahui seberapa kuat Hubungan antara Fungsi Kepemimpinan dengan Prestasi Kerja Pegawai pada Sub Bagian Tata Persuratan, Biro Umum (Sentra Penerimaan Surat) Sekretariat Jenderal Kementerian Perhubungan
2. Kegunaan Penelitian
a. Bagi instansi terkait dalam hal ini Sub Bagian Tata Persuratan, Biro Umum (Sentra Penerimaan Surat) Sekretariat Jenderal Kementerian Perhubungan, sebagai masukan/pertimbangan dalam hubungan antara fungsi kepemimpinan dengan prestasi kerja pegawai.
b. Untuk menambah pengetahuan dan wawasan penulis di bidang hubungan antara fungsi kepemimpinan dengan prestasi kerja pegawai.
c. Bagi pembaca, sebagai bahan bacaan dan sumber informasi atau tambahan referensi dalam melakukan penelitian lebih lanjut.

E. Sistematika Penulisan
Dalam menyusun skripsi ini, penulis membagi penulisan skripsi ini ke dalam 5 (lima) bab yang masing-masing terdiri dari sub-sub bagian, tujuannya adalah agar dapat menguraikan secara sistematis. Adapun pembagiannya adalah sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN
BAB pertama ini merupakan bab pembuka yang menjelaskan tentang latar belakang masalah, ruang lingkup dan pembatasan masalah, pokok permasalahan, tujuan dan kegunaan penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Bab kedua ini menjelaskan tentang landasan teori yang digunakan dalam penulisan skripsi dan selain itu dijelaskan pula tentang kerangka pemikiran yang berisi gambaran umum tentang permasalahan yang dihadapi serta upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.

BAB III : METODE PENELITIAN
Bab tiga berisikan tentang metode penelitian , lokasi, waktu penelitian, penentuan objek penelitian, pengumpulan data dan metode analisis data.

BAB IV : PEMBAHASAN

Membahas seluruh uraian mengenai seluruh informasi dan data yang telah dikumpulkan, dikaitkan dengan cara berfikir penulis guna mendapatkan pemecahan masalah. Pembahasan terdiri dari: Gambaran umum obyek penelitian dan analisis data.

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini merupakan bab terakhir yang berisikan kesimpulan dan saran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s